Tampilkan postingan dengan label PUBLIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUBLIK. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Maret 2021

SDGs Desa


Oleh A Halim Iskandar

    Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia. Hikmah terbesar pandemi global Covid-19 ialah great reset. Dormansi hampir seluruh aktivitas ekonomi, sosial, dan politik membuka waktu guna berefleksi. Hanya yang telah bersiap diri, kelak pasca pandemi, berlari lebih kencang daripada lainnya. Selama dormansi inilah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) Desa memperoleh relevansinya, yaitu menyiapkan pembangunan desa secara total: pematangan konsep, dukungan kebijakan dan kelembagaan, serta pendataan detail dari dalam desa.

    Desa berkesempatan mengatasi ketertinggalan karena SDGs Desa wajib menjangkau semua warga (no one left behind), segenap lingkungan desa, serta wajib mempertahankan ragam kearifan setempat. Sumbangsih desa SDGs diakui sebagai produk PBB paling komprehensif, mencakup segenap aspek pembangunan yang telah dikenal manusia, dan sudah diadopsi Indonesia sejak lama sesuai Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2017. Dengan menetralkan cara mencapai kemajuan (karena bisa lewat kapitalisme, sosialisme, atau jalan lainnya), tata kelola pembangunan global beralih memusatkan pada tujuan capaian. Ikatan antar negara dikuatkan melalui ukuran capaian bersama, yang terus berkembang dari 196 indikator pada 2015 menjadi 247 indikator pada 2020. Sayangnya, peringkat Indonesia yang rendah tidak banyak berubah di antara 116 negara, dari ke-98 pada 2016 melorot ke peringkat ke-101 pada 2020.

    Dari evaluasi SDGs global, diketahui keunggulan Indonesia pada dukungan kebijakan untuk seluruh tujuan pembangunan. Namun, masih tertanam kelemahan pada implementasi kegiatan, perwujudan keadilan dan keamanan, serta partisipasi antarpihak. Yang kalis dari perhatian selama ini ialah sumbangsih desa mencapai 74 persen dari capaian SDGs nasional. Artinya, sesungguhnya peran desa sangat dominan sebagai tulang punggung pencapaian SDGs. Namun, desa tidak masuk daftar rencana aksi ataupun ukuran penghitungan SDGs nasional. Jika dipilah, kontribusi desa terwujud lantaran wilayah 74.953 pemerintahan desa mencakup 91 persen wilayah pemerintahan Indonesia. Artinya, pemenuhan tujuan pembangunan desa berkontribusi 91 persen terhadap sepuluh SDGs nasional yang berorientasi kewilayahan: energi bersih, pertumbuhan ekonomi, industri dan inovasi, pengurangan ketimpangan, mitigasi iklim, pelestarian lautan, pelestarian daratan, kelembagaan dan keadilan, dan jaringan kerja sama pembangunan. Sementara itu, 118 juta warga desa mencakup 43 persen penduduk Indonesia. Maka, pemenuhan kebutuhan warga desa berkontribusi 43 persen terhadap lima SDGs nasional yang berkaitan dengan kewargaan: penghapusan kemiskinan, menghilangkan kelaparan, akses kesehatan, akses pendidikan, akses air bersih, dan antidiskriminasi jender. 


   
    Dari SDGs ke SDGs Desa Alpa terhadap desa bisa dialamatkan pada kontestasi narasi akbar pembangunan. Sejak 1945, modernisasi menghubungkan peran positif negara maju kepada negara sedang berkembang. Namun, ketika diketahui surplus negara miskin justru terserap negara maju melalui pola bantuan ini, pada dekade 1960-an berbunga paham ketergantungan. Kedua mata air paradigma pembangunan ini sama-sama menganalisis unit negara. Ketika diturunkan menjadi pembangunan regional, ukuran yang tersedia baru sampai pada level provinsi dan kabupaten, contohnya produk domestik regional bruto (PDRB).

    Mendasarkan semata-mata narasi akbar menghilangkan konteks lokal yang menyejarah. Akibatnya, mampu mencabut desa dari akar sosial dan budayanya. Syukurlah pada 1970-an dimulai upaya membawa pembangunan langsung di antara warga (people-centered development). Strateginya, membentuk kelompok masyarakat (pokmas), lalu metode partisipatoris sejak perencanaan, implementasi, hingga evaluasi kegiatan. Sajogyo dan Mubyarto konsisten menerapkannya pada Program Inpres Desa Tertinggal (IDT) tahun 1993-1997.

    Pendampingan kepada pokmas dan warga membuhulkan pembangunan pada level setiap desa, yaitu tersusun konsensus membangun melalui musyawarah desa, lalu bergotong royong mengimplementasikannya. Karena mengutamakan proses konsensus, pendekatan ini alpa mengonstruksi substansi pembangunan, dan bisa menjauhkan desa dari fakta statistik masalah lokal. Andai musyawarah menetapkan membangun jalan, maka jadilah itu substansi pembangunan lokal. Konsensus itu juga sekaligus meminggirkan substansi pembangunan air minum yang lazim diusulkan perempuan. Kelemahan itulah yang diatasi SDGs Desa, yang melokalkan SDGs global sampai ke pelosok desa. Pelokalan SDGs Desa juga menyesuaikan istilah tujuan berikut dan ikonnya sehingga lebih konkret, sederhana, dan terbayang tercapai. SDGs Desa berturut-turut mencakup tujuan Desa Tanpa Kemiskinan, Desa Tanpa Kelaparan, Desa Sehat dan Sejahtera, Pendidikan Desa Berkualitas, Keterlibatan Perempuan Desa, Desa Layak Air Bersih dan Sanitasi. Tujuan berikutnya ialah Desa Berenergi Bersih dan Terbarukan, Pertumbuhan Ekonomi Desa Merata, Infrastruktur dan Inovasi Desa sesuai Kebutuhan, Desa Tanpa Kesenjangan, Kawasan Permukiman Desa Aman dan Nyaman, Konsumsi dan Produksi Desa Sadar Lingkungan. Berikutnya tujuan Desa Tanggap Perubahan Iklim, Desa Peduli Lingkungan Laut, Desa Peduli Lingkungan Darat. Lalu tujuan Desa Damai Berkeadilan, Kemitraan untuk Pembangunan Desa, Kelembagaan Desa Dinamis dan Budaya Desa Adaptif. Yang penting dicatat, digagas SDGs Desa ke-18: Kelembagaan Desa Dinamis dan Budaya Desa Adaptif.

    Ini tujuan pembangunan yang benar-benar baru, sebagai refleksi menjaga sejarah, budaya, dan lembaga asli desa-desa di Indonesia. Dengan inilah narasi akbar pembangunan diturunkan ke dalam konteks semikro desa. Langkah SDGs Desa Kritik global atas SDGs dialamatkan pada lemahnya kampanye, kelembagaan yang tidak kuat, serta rendahnya implementasi oleh negara-negara anggotanya. Sementara keunggulannya terletak pada ukuran bersama atas pembangunan ratusan negara, rutin terukur tahunan, hingga membentuk ranking capaian SDGs sebagai mekanisme persaingan sehat antarnegara. Berlandaskan evaluasi itu, kampanye SDGs Desa kami mulai dari penerbitan trilogi buku SDGs Desa. Buku pertama menjelaskan konsep SDGs Desa, buku berikutnya membahas pengukurannya, dan buku pungkasan mengenai hasil SDGs Desa. Implementasi ke seluruh desa dipastikan melalui Peraturan Menteri Desa PDTT Nomor 13 Tahun 2020 tentang prioritas penggunaan dana desa tahun 2021. Seluruh belanja dana desa wajib digunakan untuk menjalankan SDGs Desa. Panitia sosialisasi regulasi ini memasukkan buku SDGs Desa sebagai bagian acara. Kelembagaan Kementerian Desa PDTT dirancang ulang sehingga berfungsi mencapai tiap-tiap tujuan SDGs Desa. Koordinasi kelembagaan sampai ke desa dikuatkan melalui pelatihan 35.000 pendamping desa.

    Kepala desa dan warga sendiri difasilitasi berkomunikasi, berdiskusi, bahkan berdebat langsung dengan Kementerian Desa PDTT, yang diwakili 37 anggota Tim Sapa Desa. Guna menguatkan pengukuran yang tetap mencuatkan kearifan lokal dan inovasi desa, Sistem Informasi Desa praktis dijalankan mulai Januari 2020. Isinya berupa asupan data detail tahunan tentang kondisi pada level desa, level rukun tetangga dan keluarga. Validasi dan verifikasi langsung dijalankan di tiap desa dan kecamatan, agar keraguan data bisa langsung dicek di lapangan. Seluruh data harus selesai digali pada semester pertama karena langsung dipakai sebagai pengukur jumlah dana desa tahun berikutnya, serta sumber informasi bagi perencanaan pembangunan desa. Rekomendasi bagi tiap-tiap desa muncul otomatis dari olahan Sistem Informasi Desa, dan itu harus dipenuhi sebelum bergerak ke item pembangunan lain. Rencana matang SDGs Desa inilah yang meyakinkan Indonesia melaju kencang begitu pandemi global Covid-19 mulai teratasi pada 2021. 

 Sumber: https://www.kompas.id/baca/opini/2020/11/24/sdgs-desa/

Minggu, 02 September 2018

PERAN PEMUDA SEBAGAI AGEN ANTI KORUPSI ( Agent Of Change )




"aku menemukan mutiara cinta romantis ketika turun ke jalan
dan melihat orang-orang, dan disana ada
drama, kebahagiaan, kesedihan, sesuatu yang kotor,
dan juga sesuatu yang bersih"

Cinta Tidak Melulu Tentang Hubungan Lawan Jenis.
Mencintai Kehidupan Juga Bagian Dari Mutiara Cinta Yang Alami.
Bahkan Lebih Menyegarkan,
Karena Akan Mengalir Sebagaimana Nasib Yang Membawamu Ke Masa Depan

    Meunasah Blang, Sakti, Kota bakti : Kehidupan sosial merupakan hal yang tidak pernah terlepas dari kehidupan seorang manusia, kehidupan sosial menjadi interaksi yang harus terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat. Seiring dengan berjalanan waktu keadaan sosial terus berubah. Pergeseran sosial terus mengikuti arus perubahan zaman dan teknologi. Perubahan sosial yang terjadi perlu perhatian yang khusus karena dapat mengubah nilai-nilai yang sebelumnya menjadi panutan dan kepercayaan dalam masyarakat.

       Pemuda menjadi agen yang sangat penting dalam mengawasi setiap perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Karena masa muda merupakan masa puncak produktifitas dalam menciptakan hasil cipta karya dalam tahapan pertumbuhan manusia, seorang pemuda harus mempunyai kesiapan untuk menghadapi gejolak perubahan lingkungan dan mampu membantengi diri dan masyarakat di sekitarnya agar tidak terbawa arus  sosial yang tidak menentu.

       Fenomena sosial yang terjadi di masyarakat menunjukkan begitu banyaknya tantangan yang harus dihadapi oleh pemuda di lingkungan di sekitarnya,seperti jurangkemiskinan, kesejahteraan yang belum menyeluruh, serta keadilan hukum yang seolah memihak kepada kelompok tertentu, serta yang sudah menjadi penyakit paling parah adalah Korupsi, Kolusi dan Nepotisme atau lebih dikenal dengan (KKN).

      Korupsi merupakan penyakit yang sudah memasuki tahap stadium akhir, yang merasuki seluruh lapisan struktur pemerintahan dan birokrasi; dari pejabat negara rendahan sampai pejabat level tinggi seperti kepala pemerintahan, kementrian, dan lainnya. Kondisi politik yang amburadul makin memperburuk sistem administrasi negara. Kondisi negara seperti ini tidak akan mampu untuk mengatasi berbagai problem yang bermuara pada praktik KKN.
  
    Hal penting dalam upaya pemberantasan korupsi adalah pertama, penindakan, yaitu melakukan penyilidikan, pemeriksaan dan penghukuman dilakukan oleh pihak kepolisian dan KPK. Kedua; pencegahan, pencegahan ini dilakukan melalui peraturanperaturan yang
dibuat oleh pihak yang berwenang agar terjauh dengan korupsi. Ketiga; pendidikan, Pemuda bisa mengambil perannya di bidang pendidikan, dimana pemuda menjadi wadah dan pihak yang aktif memberikan pendidikan pencegahan dan bahaya korupsi bagi generasi di bawahnya ataupun sampai kepada masyarakat umum yang ada di sekitarnya. 

    Oleh karena itu, peran pemuda sangatlah penting dalam mengawali dan mengawasi perubahan sosial yang terjadi di masyarakat, terlebih seperti korupsi yang menjadi tugas terbesar dalam peradaban ummat manusia yang harus diselesaikan dengan cepat karena akan mengakibatkan dampak yang begitu besar seperti kanker pada tubuh yang dapat membunuh keaktifan tubuh lainnya. Dengan peran optimal dari pemuda diharapkan bisa menjawab permasalahan sosial di masyarakat sosial di sekitarnya dan menjadi panutan bagi masyarakat, dengan  demikian akhirnya pemuda wajib menjadi pemuda yang inspiratif, inovatif dan memiliki sifat visioner bagi pembangunan bangsa sehingga menjadi agent of change di hari yang akan datang.

Ada  kata bijak  “Bukanlah pemuda yang mengatakan bahwa inilah ayahku, akan tetapi pemuda itu yang mengatakan inilah aku”, sekiranya pemuda menjadi pelita dalam kegelapan dan penuntun dalam kebingungan. (bach)

Kamis, 05 April 2018

PEMIMPIN BERMUKA DUA (Pengundang Bala)

Lolos dari hukuman cambuk, karena kerabat dekat.

     Banyak kehancuran yg terjadi dalam suatu negeri dipicu oleh perilaku buruk pemimpin, seperti Pemimpin yg bermuka dua. Disatu sisi menampakan diri sebagai pejuang kebenaran sesuai dgn petunjuk Allah, tetapi disisi lain malah menghancur leburkannya. Diantaranya melalui penegakan hukum, yg dilksanakan secara  pilih kasih.
Artis Aceh yang lolos dari hukuman cambuk
    Padahal perilaku seperti ini sangat berbahaya, sebagai mana diingatkan oleh Rasulullah SWA dlm suatu hadishnya, katanya,.. sesungguhnya faktor penyebab kehancuran orang - orang sebelum kalian adalah apabila orang yg bangsawan diantara mereka mencuri, maka mereka dibiarkan (tidak dihukum), namun apabila yg mencuri adalah rakyat kecil (miskin), maka mereka langsung dihukum.
Demi Dzat yg jiwaku di tanganNya ( Allah ), seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri niscaya saya akan memotong tangannya. (HR. Bukhari).
Bukan kerabat/Pejabat/Artis Hebat
Bukan Kerabat/Pejabat/Artis Hebat
      Demikian tegas dan adil Rasulullah dalam menegakkan hukum Allah, meskipun terhadap anaknya sendiri. Sedangkan pemimpin di negeri kita sering kali begitu gagah berani menegakkan hukum untuk orang-orang biasa, bahkan dicambuk di hadapan orang banyak agar jera, katanya. Sedangkan kalangan pejabat atau orang-orang dekatnya yg sudah ditemukan berbuat kemaksiatan seperti zina, dibiarkan atau ditutup-tutupi kasusnya agar tidak perlu dihukum.
Para Wanita yg tertangkap Prostitusi Online
Kabarnya ada kerabat sang Pejabat
?????????
   Pemimpin seperti ini harus diperingatkan untuk kembali kejalan yg benar. Yaitu,.. kembali kepada Alquran, yang menyuruh mengadili secara adil tanpa pilih kasih. Kalau tidak, bala akan menimpa semua kita. Wallahua'lam

Sabtu, 30 Desember 2017

POLITISI ACEH JANGAN KONYOL


  Politisi Aceh sebagai orang yang memperjuangkan kepentingannya sendiri dan keuntungan kelompoknya, bukan mengedepankan kepentingan Rakyat dan masyarakat Aceh secara menyeluruh namun merupakan penyebab utama kekisruhan politik serta konflik Internal di Aceh dengan cara jual-beli konflik, dan isu politik di Aceh demokrasi liberal sendiri diciptalan untuk menghacurkan Aceh, serta memecah belahkan Rakyat dan akan menambah kesenjangan sosial diantara Masyarakat.

      kepentingan Rakyat tidak dikerjakan tapi kepentingan individu dan kelompok yang diperjuangkan untuk mendapatkan kekuasaan, sedangka konflik dan isu politiktelah dijadikan sebagai alat dagang Aceh dengan Jakarta, tawar-menawar Otsus Aceh dan kepentingan kalangan elit dan politikus Aceh.

Maka dari itu, kita yang masih ada dan hidup dimasa politik sekarang, mari membangun peradaban untuk masa yang akan datang dengan nyata,bukan masa depan yang dijanjikan oleh politik konyol saat ini, semua kita lakukan hanya untuk kepentingan anak cucu kita dimasa yang akan datang agar mereka dapat merasakan hidup dengan kebebasan tanpa penjajah dan politik tipu daya. Bangsa ini tidak akan berubah kalau hanya diam dan terus berdiam diri dalam naungan politik tipu daya.
Sumber Aceh Generation

Minggu, 09 April 2017

Bagaimana Dengan Para Pemuda Aceh Hari Ini


"Hidup yang menyenangkan adalah pemikiran yang disusun dikala muda dan direalisasikan ketika dewasa"


        Apa yang telah mereka sumbangkan untuk Aceh tanah kelahiran yang telah diperjuangkan matian-matian oleh pemuda tempo dulu? Jika pemuda Aceh dulu dengan semangat membara mengusir penjajah, sebaliknya ada sebagian pemuda kita hari ini yang justru bermental penjajah. Jika pemuda Aceh dulu menjunjung tinggi syariat Islam, pemuda Aceh hari ini malah ada yang telah menukar agamanya dengan poker dan domino. Jika pemuda Aceh dulu terlibat aktif dan kreatif dalam membangun negeri, sebagian pemuda kita hari ini malah menjadi gembong narkoba dan merusak masa depan anak negeri dengan ganja dan sabu-sabu. Jika pemuda Aceh dulu menjadi pembimbing masyarakat, pemuda Aceh hari ini ada yang jadi tukang teror masyarakat. Tragis memang.

        Aceh membutuhkan pemuda yang mampu berkarya demi tanah kelahirannya, bukan pemuda yang hanya numpang hidup dan numpang mati. Kita butuh pemuda yang mandiri dan berdikari, bukan pemuda yang sok kuliah di luar negeri, tapi merengek ingin jadi pegawai negeri. Kita butuh pemuda berjiwa reformis, bukan pemuda cengeng yang cuma bisa mengemis. Kita butuh pemuda yang punya jati diri, bukan pemuda yang menggadaikan idealisme demi sesuat makan saja.

        Namun demikian, penulis optimis, bahwa pemuda-pemuda tangguh masih ada dan akan selalu muncul di Aceh, meskipun dalam jumlah yang sedikit. Mereka adalah para pemuda yang menggunakan segenap potensi dan intelegensinya demi membangun negeri. Meskipun di tengah badai, mereka tetap berkiprah sesuai bidangnya masing-masing. Pemuda tangguh akan mengabdikan diri sesuai profesi yang digeluti. Seorang dokter akan melayani pasiennya tanpa pandang bulu, seorang guru akan mencerdaskan murid-murid negeri tanpa mengeluh, seorang polisi dan tentara akan memberikan rasa aman kepada rakyatnya, seorang politisi akan memperjuangkan aspirasi rakyat dan tidak menjadikan mereka sebagai komoditi. Demikian pula dengan seorang Gubernur Bupati, Walikota akan memastikan agar rakyatnya tetap bisa tersenyum dan tidak membiarkan mereka mengikat perut. Sudah saatnya pemuda Aceh bangkit dan berdedikasi untuk negeri. Di tangan pemudalah negeri ini dititipkan oleh para indatu.

          Negeri ini tidak akan bernilai jika pemuda-pemudanya lalai. Harapan untuk melakukan perubahan ada di pundak para pemuda. Pemuda adalah masa depan Bangsa, di tangan merekalah masa depan Bangsa ditentukan. Pemuda memiliki potensi untuk mengubah dunia, lebih tepatnya pemuda yang berkualitas bisa melakukannya. Mengkader pemuda yang berkualitas adalah tanggung jawab kita semua.


Bersatulah para pemuda dan pemudi Aceh dan rubahlah nasib bangsa kita supaya lebih baik dari sebelumnya.


Yang Muda Mabok Yang Tua Korup (DISTORSI)

"Yang MUDA MABOK, Yang TUA KORUP"


       Yang muda mabuk, yang tua korup!" begitu kira-kira, hehe......, Maksudnya baik yang muda terlebih yang tua, sama-sama mengalami krisis moral. Saya kira diakui atau tidak, saat ini Negeri tidak hanya krisis moral, tapi krisis multidimensional. Cepat atau lambat, dampaknya sangat buruk. Generasi muda yang egois, hedonis, morfinis, pecandu narkoba, pecandu miras dan sejenisnya, generasi muda yang hanya tahu berhura-hura menikmati harta orang tua. Kepada generasi seperti inikah kita akan menyerahkan tampuk kekuasaan negeri ini di masa depan ?

      Jika yang muda mabuk, maka yang tua juga mabuk. Mabuk kaum tua ini justru lebih parah lagi. Mereka adalah para pejabat dan penyelenggara negara yang mabuk kekuasaan dan mabuk harta. Tiada hari tanpa korupsi.


    Teramat panjang daftar yang harus diuraikan jika menyangkut korupsi di negeri ini. Negeri ini terkenal sebagai “negeri para bedebah” tempat para koruptor merajalela. Lebih separuh kepala daerah, baik di tingkat Provinsi, kabupaten/kota yang tersangkut kasus korupsi bahkan sudah sampai ke tingkat Desa. Demikian juga anggota dewan, baik di daerah maupun pusat, tidak sedikit yang berakhir di jeruji penjara. Aparat penegak hukum juga terlibat, baik di kepolisian maupun kejaksaan. Beberapa oknum tersangkut kasus korupsi, suap, dan pemerasan.

      Korupsi di negeri ini sudah didaulat menjadi sebuah budaya. Sebagai budaya, korupsi sudah bersifat masif dan massal. Semua lini kehidupan masyarakat selalu diwarnai praktik-praktik korupsi. Dari urusan kelahiran sampai kematian tak lepas dari pungli. Ironisnya urusan haji dan pengadaan kitab suci pun dikorupsi.

   Di saat wajib pajak susah-payah bekerja kemudian menyisihkan uang untuk membayar pajak, dengan harapan jalan-jalan yang akan dilalui bisa mulus, tanpa lubang-lubang sehingga lancar, atau dengan harapan lampu penerangan di jalan sehingga bisa nyaman atau orang miskin bisa berobat dengan gratis dan sekolah bisa gratis, itu hanyalah sebatas mimpi.

   Ya..., beginilah negri ini, yg tua bukannya memberikan contoh yg baik untuk pemuda, bukannya merangkul tapi malah di kucilkan. "Anak mabok karena orang tuanya pemabok, anak mencuri karena orang tuanya pencuri". Narkoba kau suruh berantas, korupsi kau biarkan bebas,.

"Yang muda mabok, Yang tua korup, Mabok terus, korup terus, jayalah negeri ini, jayalah negeri ini... MERDEKA..!!



Rabu, 22 Februari 2017

KOTA BAKTI, Stop Pembodohan Generasi Muda

Mencerdaskan Generasi Muda Dengan Politik
Mari kita memulainya dengan melihat fakta, bahwa dewasa ini dunia politik cenderung membodohkan masyarakat, terutama para remaja selaku generasi muda. Pembodohan itu terjadi karena banyaknya dosa-dosa politik yang dilakukan oleh para politisi. Baik dosa dalam bentuk korupsi, kolusi, dan juga nepotisme. Mengapa hal ini disebut pembodohan? Alasan yang pertama, karena hal tersebut dapat menciptakan sebuah opini di kalangan generasi muda bahwa dunia politik adalah dunia yang penuh dengan limpahan dosa. Sehingga, mayoritas dari mereka memilih untuk menjauh dan tidak mau tahu urusan poilitk. Padahal, segala kebijakan dan aturan yang secara langsung diterapkan dalam kehidupan mereka sebagai warga Negara dirancang dalam dunia politik. Alasan yang kedua, karena hal tersebut dapat menimbulkan rasa benci di hati generasi muda terhadap para pemangku kebijakan, baik di kalangan eksekutif ataupun legislatif. Tentu ini dapat menjadi masalah. Karena ketika hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin tidak terjalin suatu hubungan yang harmonis, tentunya segala kebijakan yang akan diterapkan tidak akan berjalan secara maksimal.

Dan apabila generasi muda sudah bersikap tidak peduli (apatis) serta benci terhadap dunia politik, maka akan berujung pada penyakit “buta politik”. Yang pada akhirnya, akan membentuk dua kelompok generasi muda penerus bangsa. Kelompok pertama, adalah generasi muda yang diam dalam menanggapi segala kebijakan yang terkadang, kebijakan tersebut tidak berpihak pada mereka (masyarakat). Dengan kata lain, mereka akan kehilangan nalar kritis sebagai generasi muda sehingga dengan mudah dikelabui oleh para politisi dan pejabat nakal. Kelompok kedua, adalah kelompok radikal yang cenderung anarkis dalam menanggapi setiap kebijakan pemerintah. Memang, ketika semangat yang menggebu tidak dibarengi dengan pengetahuan yang mendalam, dapat menimbulkan tindakan kekerasan.

Sebenarnya apabila kita melihat lebih cermat, masih ada satu lagi alasan dan kelompok yang terkait dengan politik yang membodohkan ini. Yaitu, hal tersebut dapat menarik perhatian dari calon “koruptor baru”. Ketika dipaparkan bahwa alam politik adalah alam yang penuh dengan proyek dan rupiah yang melimpah, sementara di sisi lain hukum tumpul yang tidak dapat menjangkau para koruptor “kelas kakap”, maka akan muncul kelompok generasi muda yang tertarik dengan dunia politik sekedar berhasrat untuk meraup keuntungan materi. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya politisi yang dulunya adalah aktifis, akhirnya tersandung dengan kasus korupsi.

Alasan-alasan dan kelompok-kelompok di atas, adalah penjelasan mengapa dunia politik saat ini dikatakan cenderung membodohkan masyarakat terutama remaja dan generasi muda. Politisi nakal yang tidak memberikan teladan kebaikan, dan media yang menyiarkan berita secara kebablasan, membuat generasi muda “buta politik” atau tidak lagi mengetahui makna sejati dari politik. Sehingga mereka seringkali bersikap “kurang cerdas” dalam menyikapi berbagai masalah politik dan kebijakan pemerintahan.

Maka dari itu, kita perlu segera menghapus politik yang membodohkan ini, menjadi politik yang mencerdaskan generasi muda. Karena generasi muda adalah agen perubahan yang diharapkan mampu mengubah Bangsa ke arah yang lebih baik, serta menjadi pengawal kebijakan pemerintah, agar setiap kebijakan yang diambil benar-benar berpihak kepada rakyat.

Selanjutnya, bagaimanakah konsep politik yang mencerdaskan ini? Sebenarnya cukup sederhana, yaitu harus ada sinergitas antara politisi, media, dan aparat penegak hukum. Para politisi tidak hanya mencari dukungan, namun juga memberikan teladan kebaikan dalam dunia politik. Sementara media juga tidak hanya memberitakan perihal dosa-dosa politik yang cenderung memprovokasi masyarakat, namun juga mengabarkan perihal kemajuan dan kebaikan dunia politik dalam negeri. Di sisi lain, aparat penegak hukum benar-benar tegas dalam memberikan sanksi kepada politisi nakal.

Mungkin konsep itu masih terkesan abstrak dan utopis. Namun kita bisa membuat sebuah rancangan konkrit, agar konsep politik yang mencerdaskan ini bisa benar-benar terwujud.

Yang pertama, dengan menghentikan politik uang (money politics). Sebagaimana kita ketahui, saat ini kegiatan membagi-bagikan uang selama berkampanye nampak jelas terlihat dalam dunia politik. Hanya saja, “kemasan” yang dipakai oleh para politisi sanggup mengelabui panitia pengawas pemilu (panwaslu). Misalnya politik uang dalam bentuk sumbangan, membagikan sembako, membagikan kaos, dan lain sebagainya. Hal ini tentu dapat membuat masyarakat terutama generasi muda bersikap pragmatis, dengan memilih calon yang memberikan “suap”, dan mengesampingkan visi dan misi dari para calon. Maka dari itu, perlu adanya ketegasan. Bahwa, selama berkampanye para calon hanya boleh mengandalkan visi dan misi. Dengan begitu generasi muda akan terlatih untuk cermat dan cerdas dalam menentukan pilihan.

Yang kedua, belajar politik sejak dini untuk berbakti: Saat ini kita melihat partai politik banyak merekrut kader-kader instan yang kurang berkualitas. Pengkaderan hanya mengandalkan kekayaan dan ketenaran untuk menarik perhatian masyarakat. Misalnya, dengan mengkader para artis. Hal ini membuktikan bahwa dunia politik kita mengalami kegagalan dalam mempersiapkan kader yang cerdas dan berkualitas. Maka dari itu, harus ada pendidikan politik bagi generasi muda (pelajar menengah dan mahasiswa). Pendidikan tentang apa itu makna sejati dari politik, serta cara membaca kondisi politik terkini. Dengan begitu, akan tercetak generasi muda yang kritis dan cerdas dalam mengawal dunia perpolitikan, serta di sisi lain akan tercetak kader-kader baru yang benar-benar berkualitas.

Yang ketiga, dengan memberikan ketegasan hukum bagi pelaku dosa politik, serta pendidikan hukum bagi generasi muda : pemberian ganjaran terhadap pelaku dosa politik di negeri kita selalu berjalan tidak seimbang. Mulai dari perlakuan yang istimewa, pengurangan masa hukuman, bahkan sampai vonis bebas. Sementara media, juga terkesan mencari berita hangat sesaat. Meskipun sebuah kasus belum tuntas, namun segera ditinggalan jika dirasa sudah “tidak hangat” lagi. Dan para generasi muda, hanya bisa menonton dari rumah, atau paling banter melakukan unjuk rasa dengan berteriak di luar gedung. Hingga pada akhirnya, dosa politik tidak diganjar setimpal, dan masyarakat terutama generasi muda tetap diombang-ambingkan oleh tumpukan kasus-kasus baru. Maka dari itu, aparat penegak hukum wajib ikut andil dalam mencerdaskan generasi muda dan masyarakat, dengan menegakkan hukum setegak-tegaknya. Dan tidak lupa, memberikan pendidikan atau paling tidak sosialisasi tentang hukum yang berlaku di Indonesia. Agar generasi muda terlatih untuk mengawal setiap vonis hukum yang dilimpahkan kepada khususnya pelaku dosa politik.

Apabila ketiga hal ini dapat dilakukan, maka politik dalam negeri akan mencerdaskan generasi muda. Cerdas dalam artian dapat menjadi masyarakat yang bijak dan “melek politik” sehingga tidak mudah dikelabui oleh politisi nakal. Dapat menjadi pengawal yang senantiasa mengawal setiap kebijakan dan arus politik yang mengalir dengan cara yang lebih cerdas, tidak harus dengan demonstrasi. Serta dapat menjadi kader-kader politik masa depan yang berkualitas jasmani dan rohaninya. Dengan begitu, maka generasi muda bangsa dapat benar-benar menjadi agen perubahan bagi bangsa dan Negara.

Jadi, kesimpulannya adalah. Generasi muda wajib “melek politik”. Generasi muda harus cerdas dalam menyikapi berbagi permasalahan yang melingkupi dunia politik. Maka, generasi muda harus menuntut transisi dari politik yang membodohkan menjadi politik yang mencerdaskan. Bagaimanakah konsep tuntutan itu? yaitu harus ada sinergitas dari semua elemen. Apabila hanya mengandalkan aparat penegak hukum, tentu terlalu naif. Maka, antara aparat penegak hukum, media, dan politisi harus membentuk sebuah “lingkaran malaikat” yang selalu menjaga dan mengawasi satu sama lain.

Yang terakhir, tentu harus ada nasehat pada diri sendiri sebagai cara untuk menginstropeksi diri. Memang kita, selaku generasi muda jengah melihat dunia politik yang penuh dengan intrik dan manipulasi tidak sehat terutama yang berkaitan dengan dana dan jabatan. Kita juga sudah bosan dengan begitu banyaknya dosa-dosa yang mengiringi perjalanan politik kita. Memang, itu semua merupakan kesalahan. Namun bukankah kesalahan itu harus diperbaiki, bukan justru dijauhi? Maka dari itu, mari kita selaku generasi muda senantiasa belajar dan belajar agar kita dapat menjadi generasi muda yang kritis dan juga cerdas. (Bach).

Jumat, 27 Januari 2017

Prabowo Korban Fitnah

Munir : Prabowo Korban Fitnah
Sumber @pencerahanbangsa 19 juni 2014
Menjadi tua itu pasti, menjadi bijak itu pilihan. Begitulah petuah orang tua kita yang bijak. Membahas pernyataan Prabowo kemarin, kami harus terlebih dulu ungkapkan keterangan para saksi, pelaku sejarah dam fakta di lapangan.
Fakta sejarah :

1. Ada peristiwa yg terjadi pada 1997 -1998 berkenaan dengan penculikan & pembunuhan sejumlah orang, diantaranya aktifis. Fakta bahwa ada PEMBUNUHAN dan Fakta ada PENCULIKAN, adalah 2 (dua) hal yang berbeda. Tidak dapat dicampur adukan karena maknanya berbeda.
 

2. PEMBUNUHAN dan PENCULIKAN pada 1997-1998 SERING disalahpahami mayoritas rakyat sebagai SATU TINDAKAN. Padahal keduanya terpisah.

PENCULIKAN 9 (sembilan) aktifis mahasiswa adalah FAKTA. Dilakukan oleh Tim Mawar Kopassus, dipimpin Kol. Chairawan, anak buah Prabowo.

Fakta bahwa 9 (sembilan) aktifis yg diculik Tim Mawar semuanya dikembalikan hidup setelah ditahan Tim Mawar. Fakta: Tidak ada korban jiwa.

Fakta : Penculikan 9 aktifis oleh Tim Mawar itu dilakukan dalam 2 tahap : 2-4 Feb dan 14 maret 1998. KECUALI : andi arief (28 Maret 98).

Fakta bahwa Prabowo pada saat ditanya Panglima TNI Wiranto :

Wiranto : "Apakah yg diculik masih hidup?"
Prabowo : "Masih. Semua hidup"
Wiranto :"Siapa pemberi perintah penculikan?"
Prabowo : "Saya sendiri"
Wiranto :"bebaskan semua"
Prabowo : "Siap. Dilaksanakan"

Fakta : Semua korban penculikan masih hidup dan dibebaskan dalam keadaan hidup oleh Prabowo.

Fakta : Andi Arief satu-satunya korban penculikan Tim Mawar yang diculik pada 28 Maret 98. Andi adalah "paket" yang gagal diculik pada 14 Maret.

Fakta : andi arief ditangkap Tim Mawar dipersembunyiannya di satu desa di Lampung, setelah buron dgn berpindah-pindah tempat persembunyian.

Fakta : Saat Andi Arief berhasil ditangkap, hendak dibawa ke Jakarta, Tim Mawar dihadang petugas polisi jaga di penyeberangan Bakauheni.

Fakta bahwa salah satu Tim Mawar menunjukan tanda kartu anggota TNI - Kopassus kepada petugas polisi yang menghadang saat naik Ferry.

Fakta bahwa petugas polisi setelah tahu tim pembawa andi arief adalah kopassus, segera melapor ke Polda Lampung, diteruskan ke Pomdam TNI.

Fakta bahwa DanPOM Lampung meneruskan info Polda ke PUSPOM TNI di Jakarta. Info

Fakta setelah tgl 28 Maret 1998 atau penculikan terakhir oleh Tim Mawar Kopassus, telah terjadi PEMBUNUHAN / Penghilangan atas 2 aktifis

Fakta : Kedua aktifis yang DIBUNUH (hilang tak ketemu) itu Bimo dan Hendra (aktifis surabaya yang sudah di Jakarta) terjadi pada 30 Maret 98.

Fakta : Tim Mawar TIDAK TERBUKTI melakukan penculikan lagi setelah 28 mar 98.

Fakta : Korban penculikan tim mawar semua hidup

Fakta : ada TIM GELAP di samping tim MAWAR sebagai pelaku PEMBUNUHAN.

Fakta : TIM GELAP tidak menculik, tetapi MEMBUNUH dan MENGHILANGKAN

Fakta : TIM GELAP tidak saja membunuh 2 aktifis pada 30 maret 98, tetapi juga membunuh 12 orang lain, yang BUKAN AKTIFIS

Fakta : TIM GELAP melakukan pembunuhan acak & MENGIKUTI JEJAK Tim Mawar.

Tujuan : fitnah ke Tim Mawar

Tim Mawar jadi kambing hitam

Fakta : ada 3 tahap atau periode waktu dlm peristiwa tsb.

1. Sebelum pemilu 97 = acak, non aktifis. HILANG. MATI

Pelaku : TIM GELAP

2. Sebelum Sidang Umum MPR 98 : ada 2 pelaku

a. Tim Mawar kopassus
b. Tim Gelap
Ronin1946 1 hour ago

2. Setelah Sidang Umum MPR : ada 2 pelaku

a. Tim Mawar
b. Tim Gelap

Apa bukti keberadaan Tim Gelap ? Kita ungkap semuanya

Oh ya, sebelumnya perlu kami sampaikan, semua info ini kami peroleh dari dokumen-dokumen, kesaksian korban, pelaku, penyidik Puspom, TGPF dan seterusnya. Hampir 10 bulan kami menyusun puzzle utk mengungkap misteri penculikan 9 aktifis dan misteri pembunuhan 14 warga (penghilangan 13 orang) Sebelum menyusun puzzle utk jawab teka - teki dan mengungkap misteri penculikan 9 akifis dan misteri 13 warga hilang, 1 tewas, Kami sudah punya bahan, bukti, petunjuk permulaan yang cukup dari alm Munir, Wiranto, Solahudin Wahid, Syamsu Djalal, aktifis korban, dst.

Termasuk bukti-bukti keterkaitan atau benang merah antara pembunuhan Munir (ketua Kontras) yang akhirnya sadar dan TAHU siapa pelaku pembunuhan. TIDAK ADA orang (di luar pelaku) yg PALING TAHU apa yang sesungguhnya TERJADI pada peristiwa PENGHILANGAN 13 warga pada 97-98, selain MUNIR.

Ketika akhirnya MUNIR TAHU bahwa ADA PELAKU lain di luar Tim Mawar yang HARUS BERTANGGUNG JAWAB atas mati/hilangnya 14 warga, dia BUKA SEMUA.

Ingatkah ANDA saat MUNIR sebelum dibunuh BICARA di media, jg di TV : Ada TIM lain di luar Tim Mawar ? Munir :" Prabowo korban Fitnah"

Ingatkah anda wawancara Munir di media massa termasuk TV, terakhir sebelum dia DIBUNUH? Dimana saat itu Munir akui ada kekeliruan OPINI

Ingatkah anda ketika MUNIR bersaksi melalui media massa termasuk di TV, bhw tuduhan-tuduhan KONTRAS sebelumnya terhadap Prabowo ternyata KELIRU ?

Ingatkah anda ketika MUNIR mengakui pada awalnya KONTRAS terpengaruh tekanan OPINI yang sangat kuat dalam menyudukan Prabowo?

Ingatkah anda saat MUNIR bersaksi bahwa OPINI yang begitu hebat menyalahkan/memfitnah Prabowo dalam kasus penculikan dan Mei 98 = Konspirasi

Ingatkah anda ketika Munir lantang mengucapkan :"Konspirasi Besar ini patut diduga pelakunya adalah para musuh Prabowo di TNI?" Bahkan Munir dlm kesaksiannya sebelum ke Belanda,mdibunuh dengan racun di perjalanan saat transit di Changi Spore : "Saya tahu pelaku-pelakunya"

Munir ketua KONTRAS, sahabat kami tercinta, pejuang dan pahlawan HAM, MATI DIBUNUH oleh oknum-oknum yang kita kenal sekarangg sebagai musuh-musuh Prabowo ! Logika sederhana : jika MUNIR tahu siapa pelaku pembunuhan/penghilangan 14 warga 97-98 dan HURUHARA Mei 98, kenapa dia harus dibunuh?

Kesimpulannya jelas :

1. Para PEMBUNUH MUNIR, takut jika MUNIR HIDUP
2. Munir hidup, kejahatan mereka terungkap
3. Munir harus MATI
4. PEMBUNUH MUNIR terkait dengan temuan KONTRAS mengenai : PELAKU sesungguhnya pembunuhan/penghilangan 14 warga
5. PEMBUNUH MUNIR terkait dengan temuan KONTRAS mengenai : PELAKU HURU HARA / KERUSUHAN MEI 1998 ! Skak Mat !
6. PARA PELAKU PEMBUNUH MUNIR = PARA PELAKU PENGHILANGAN/ PEMBUNUHAN 14 WARGA &Kerusuhan Mei 1998

MUNIR HRS MATI

MUNIR harus MATI

The Dead Man Can't Dance
The Dead Man Can't Sing

Siapa pembunuh Munir ? Tanya kontras !  Siapa Jenderal itu ?

HOAX (Berita Bohong)

Hoax Mengacaukan Umat Sepanjang Masa


    Fenomena hoax atau penyebaran berita bohong bukanlah hal baru dalam sejarah manusia. Penyebaran berita bohong telah dimulai kala iblis menggoda Nabi Adam AS dan Siti Hawa, sehingga sang bapak dan ibu manusia ini harus terusir dari surga. Pada masa Nabi Muhammad SAW, hoax terjadi dengan munculnya nabi-nabi palsu. Hingga kini di akhir zaman, hoax semakin marak terjadi.


    
      Hoax biasanya menyebar bagai virus. Sehingga wajar saja banyak kabar hoax yang menjadi terkenal dan viral, bahkan orang-orang dengan tanpa sadar ikut menyebar berita tersebut. Hoax lebih dasyat dampaknya dari bom atom. " Jika bom atom hanya membunuh manusia satu generasi, tapi hoax mampu merusak banyak generasi yang panjang berabad-abad lamanya." ( Tgk Mursalin Basyah Lc MA, Pengurus Ikatan Alumni Timur Tengah / IKAT ).

    
      Hoax yang selalu muncul ditengah umat islam adalah senjata paling keji dalam sejarah, dapat menghancurkan banyak generasi sekaligus. Berita hoax biasanya sangat masuk akal dan menyentuh sisi emosional, sehingga ia tidak sadar sedang di bohongi. Bahkan dengan mudah menganggap berita itu adalah fakta yang harus disampaikan ke orang lain yang dirasa butuh.

    Allah SWT juga memberikan peringatan dalam Al-Qur'an Surah An-Nur ayat 15 yang artinya, " (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar ".

 
      Berita hoax juga menjadi penyebab lahirnya fitnah yang cukup besar di kalangan umat islam setelah Rasulullah wafat, yaitu terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan. Fitnah ini terus melebar hingga terjadi perang jamal dan perang shiffin yang terjadi antara sahabat-sahabat Rasulullah, yang kemudian menjadi cikal bakal timbulnya beberapa kelompok besar dalam islam.(bach/*)